Publikasi

...

Hadapi Penurunan Produksi Lapangan Tua, SKK Migas Dorong Percepatan Pengeboran Nasional

Rabu, 21 Oktober 2026

Pekanbaru, 21 Oktober 2026 – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan tingkat produksi nasional. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah kerja migas yang saat ini beroperasi telah memasuki kategori lapangan matang atau mature field.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lapangan yang telah berproduksi dalam jangka panjang umumnya mengalami penurunan kemampuan produksi secara alamiah (natural decline). Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk menjaga produktivitas sekaligus mendukung pencapaian target produksi nasional.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menyampaikan kondisi tersebut dalam konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, salah satu tantangan utama industri hulu migas adalah mengendalikan laju penurunan produksi melalui peningkatan aktivitas pengeboran dan pengembangan lapangan bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Langkah tersebut menjadi penting mengingat pemerintah menetapkan target lifting minyak bumi sebesar 610.000 barel per hari dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026.

Optimalisasi Lapangan Tua Jadi Prioritas Industri Migas

Berdasarkan paparan SKK Migas, realisasi lifting minyak dan kondensat nasional tercatat sekitar 578.600 barel per hari atau mendekati 95 persen dari target APBN 2026.

Untuk memperkecil selisih antara realisasi dan target, SKK Migas terus mendorong peningkatan aktivitas pengeboran sumur baru, optimalisasi sumur eksisting, serta percepatan program pengembangan lapangan.

Pengelolaan lapangan tua membutuhkan pendekatan teknis yang tepat, termasuk pemeliharaan fasilitas produksi, peningkatan efisiensi operasional, dan penerapan teknologi peningkatan perolehan minyak atau Enhanced Oil Recovery (EOR).

Selain mempertahankan produksi dari lapangan eksisting, kegiatan eksplorasi juga diperlukan untuk menemukan cadangan baru yang dapat mendukung keberlanjutan pasokan energi nasional.

Keberhasilan upaya tersebut membutuhkan investasi berkelanjutan, kepastian regulasi, serta kerja sama antara pemerintah, SKK Migas, dan pelaku industri.

Bagi Provinsi Riau, tantangan pengelolaan lapangan tua memiliki relevansi besar mengingat wilayah ini merupakan salah satu pusat produksi minyak bumi nasional, termasuk melalui kegiatan operasi di Wilayah Kerja Rokan.

Pengembangan teknologi dan peningkatan aktivitas pengeboran diharapkan dapat memperpanjang usia produktif lapangan sekaligus mendukung kegiatan industri penunjang migas di daerah.

Melalui optimalisasi aset eksisting dan pengembangan cadangan baru, industri hulu migas Indonesia diharapkan mampu menekan penurunan produksi, meningkatkan kinerja lifting, serta memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.

Sumber: CNBC Indonesia, 20 Oktober 2026 – SKK Migas Akui Ladang Minyak RI Banyak yang Sudah Tua. | Detik Finance, 20 Oktober 2026 – Lifting Minyak RI Masih Kurang 31 Ribu Barel/Hari, SKK Migas Putar Otak. | Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM – Laporan Kinerja Tahun 2025.

Kategori: Berita Migas | Produksi Migas | Industri Hulu Migas

Loading...