Pekanbaru, 21 Oktober 2026 – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mencatat realisasi investasi sebesar US$15,42 miliar sepanjang 2025. Capaian tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan untuk mendukung kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan, serta keberlanjutan produksi migas nasional.
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, menyampaikan bahwa investasi yang dilakukan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) membutuhkan dukungan dan koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan agar dapat menghasilkan manfaat optimal bagi pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Bayu menjelaskan bahwa kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara kemampuan produksi domestik masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas produksi guna mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan dalam negeri.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki potensi sumber daya hidrokarbon yang cukup besar. Dari 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru sekitar 20 cekungan yang telah dikembangkan untuk mendukung produksi migas nasional.
Kepastian Regulasi dan Insentif Jadi Faktor Penting Investasi
Besarnya potensi tersebut membuka peluang pengembangan industri migas. Namun, kegiatan eksplorasi membutuhkan investasi besar, teknologi khusus, serta waktu yang panjang sebelum sumber daya dapat diproduksi secara komersial.
Oleh karena itu, kepastian hukum, penyederhanaan perizinan, dan dukungan kebijakan fiskal menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menekankan perlunya stimulus fiskal yang kompetitif untuk mendorong pengembangan potensi sumber daya menjadi produksi nyata.
Selain dukungan investasi, industri juga memerlukan pendekatan komersialisasi yang lebih adaptif agar pengembangan lapangan migas memiliki kelayakan ekonomi dan mampu memberikan kontribusi terhadap target produksi nasional.
Berdasarkan laporan Kementerian ESDM, investasi hulu migas pada 2025 meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar US$15,33 miliar. Capaian tersebut merupakan bagian dari total investasi subsektor migas sebesar US$18,02 miliar pada 2025.
Bagi Provinsi Riau, keberlanjutan investasi hulu migas memiliki arti penting dalam mendukung optimalisasi lapangan produksi, pengembangan industri penunjang, serta aktivitas ekonomi daerah.
Melalui sinergi pemerintah, regulator, investor, dan pelaku industri, pengembangan potensi migas nasional diharapkan dapat berjalan lebih efektif, meningkatkan produksi domestik, serta memperkuat ketahanan energi Indonesia secara berkelanjutan.
Sumber: Kontan.co.id – Investasi Hulu Migas Tembus US$15,42 Miliar, PHE Beberkan Tantangannya. | ANTARA News, 21 Oktober 2026 – PHE Mencatat Investasi Hulu Migas Mencapai 15,42 Miliar Dolar AS pada 2025. | Kementerian ESDM – Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Migas Tahun 2025.
Kategori: Berita Migas | Investasi Hulu Migas | Ketahanan Energi Nasional