Pekanbaru, 21 Oktober 2026 – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus mengupayakan peningkatan produksi minyak nasional untuk mendekati target pengangkatan minyak siap jual (lifting) yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026.
Berdasarkan data yang dipaparkan SKK Migas, realisasi lifting minyak dan kondensat nasional tercatat sebesar 578.600 barel per hari. Capaian tersebut setara dengan sekitar 94,9 persen dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 barel per hari.
Dengan demikian, masih terdapat selisih sekitar 31.400 barel per hari yang perlu dikejar melalui berbagai langkah optimalisasi kegiatan industri hulu migas.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menyampaikan bahwa pihaknya tetap optimistis untuk meningkatkan capaian lifting hingga akhir 2026 melalui penerapan sejumlah skenario dan strategi operasional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan di Jakarta, Selasa (20/10/2026), dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, SKK Migas, dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Pengeboran dan Investasi Jadi Kunci Peningkatan Lifting
Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri hulu migas Indonesia adalah penurunan produksi alamiah atau natural decline pada sejumlah lapangan minyak yang telah beroperasi dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut menuntut perusahaan migas untuk meningkatkan kegiatan pengeboran, mengoptimalkan sumur produksi, serta menerapkan teknologi yang mampu mempertahankan produktivitas lapangan.
SKK Migas menilai percepatan pengeboran menjadi salah satu langkah penting untuk mengendalikan laju penurunan produksi sekaligus membuka peluang peningkatan volume minyak yang dapat diangkat ke permukaan.
Selain penguatan kegiatan operasional, kepastian hukum, kebijakan fiskal, dan keberlanjutan investasi turut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan produksi nasional.
Iklim investasi yang kondusif diharapkan dapat mendorong keterlibatan investor dalam kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan, serta penemuan cadangan migas baru.
Di sisi lain, SKK Migas juga menekankan perlunya strategi komersialisasi yang lebih adaptif dan inovatif agar pengelolaan sumber daya migas mampu memberikan manfaat ekonomi secara optimal.
Penguatan tata kelola, akuntabilitas, serta pengembangan skema pembiayaan menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas kegiatan industri hulu migas.
Bagi Provinsi Riau, upaya peningkatan lifting nasional memiliki relevansi strategis mengingat wilayah ini merupakan salah satu pusat kegiatan produksi minyak bumi Indonesia.
Melalui sinergi antara peningkatan aktivitas pengeboran, penguatan investasi, dan pengelolaan lapangan yang berkelanjutan, industri hulu migas diharapkan mampu memperkecil kesenjangan terhadap target produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sumber: Detik Finance, 20 Oktober 2026 – Lifting Minyak RI Masih Kurang 31 Ribu Barel/Hari, SKK Migas Putar Otak.
Kategori: Berita Migas | Produksi Migas | Ketahanan Energi Nasional