Publikasi

...

Pertamina Hulu Energi Bidik Pusat Penyimpanan Karbon Asia, Perkuat Peluang Investasi Energi Rendah Emisi

Jumat, 23 Oktober 2026

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memperkuat komitmennya dalam mendukung pengurangan emisi karbon melalui pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat penyimpanan karbon regional sekaligus membuka peluang investasi baru dalam industri energi rendah emisi.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, dalam forum internasional Japan CCUS Summit 2026 yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026).

Dalam forum tersebut, PHE menyoroti besarnya potensi penyimpanan karbon secara geologis di Indonesia. Letak geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah pusat industri utama Asia dinilai menjadi keunggulan dalam pengembangan layanan penyimpanan karbon lintas negara.

Teknologi CCS memungkinkan karbon dioksida (CO₂) dari kegiatan industri ditangkap, diangkut, kemudian diinjeksikan ke dalam formasi batuan bawah permukaan untuk disimpan secara permanen dengan pengawasan yang memadai.

Kepastian Regulasi Jadi Kunci Pengembangan CCS

Dannif menekankan bahwa keberhasilan pengembangan proyek CCS tidak hanya bergantung pada besarnya kapasitas penyimpanan, tetapi juga pada kepercayaan investor dan keberlanjutan kerja sama komersial.

Menurutnya, terdapat tiga aspek penting dalam pengembangan investasi CCS, yakni kepastian regulasi, kejelasan kelembagaan, serta kelayakan finansial proyek dalam jangka panjang.

Kerja sama penyimpanan karbon lintas negara membutuhkan komitmen yang dapat berlangsung selama 20 hingga 30 tahun. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan investasi, mekanisme pengawasan, dan kesepakatan bisnis yang transparan.

Pengembangan fasilitas CCS juga membutuhkan investasi besar untuk kegiatan studi geologi, pengeboran sumur injeksi, pembangunan infrastruktur transportasi CO₂, serta penyediaan fasilitas penyimpanan.

Selain kesiapan teknologi, PHE memandang pentingnya kepastian volume karbon yang akan dikirimkan oleh perusahaan pengguna jasa penyimpanan agar fasilitas dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, Pertamina menargetkan tercapainya keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) pada proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik sebagai langkah menuju tahap injeksi.

Pengembangan tersebut juga sejalan dengan kerja sama Asia Zero Emission Community (AZEC), yang mendorong pengurangan emisi melalui kolaborasi teknologi dan investasi antarnegara.

Bagi industri migas nasional, pengembangan CCS membuka peluang diversifikasi usaha, pemanfaatan keahlian geologi bawah permukaan, serta pengembangan infrastruktur energi baru.

Melalui penguatan kemitraan internasional dan dukungan kebijakan yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu membangun industri penyimpanan karbon yang kompetitif sekaligus berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi kawasan Asia.

Sumber: CNBC Indonesia, 23 Oktober 2026 – Pertamina Hulu Energi Siap Jadi Pusat Penangkapan Karbon di Asia. | Liputan6, 23 Oktober 2026 – PHE Bidik Peluang Indonesia Jadi Hub Penyimpanan Karbon Asia. | Resources Asia, 23 Oktober 2026 – Dorong Dekarbonisasi Regional, Pertamina Hulu Energi Siap Jadi Hub CCS di Asia.

Kategori: Berita Migas | Teknologi CCS | Transisi Energi

Loading...